opik> seseorang yang bukan apa2 yang sedang mencoba untuk menjadi apa2. berkuliah di Unpad jurusan Hub. Internasional. music>bagaimana dengan permusikan. sebenernya saya banyak terinfluence dari temen saya. click........... aja........... sini............ saya biasa ngebajak komputer mereka dan mengambil sebanyak2nya mp3 yang ada disana. teruskan pembajakan lagu. saya juga banyak terinfluence dari video2 skateboard kaya 411VM, thatslife dan banyak lagi. See my list: Radiohead. Sigur ros. Bjork. Depechemode. Three berry ice cream. auf der maur mellisa. My Vitriol. Karen ann. Swan Dive. Feist. D'sound. fourplay. Ladytron. the postal service. portishead. jem. lali puna. mew.The Strokes and many more.
   

<< August 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31







-ayu
-bayugenia
-diani
-gin
-libertania
-phoebe
-reygreena
-rimba
-subur
-soe





If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, August 04, 2007
Dua Manusia

Manusia Pertama
   Kukira nama tidak penting. Tindakan dari orang yang ber-“nama” itulah yang menurutku penting. Jadi tak akan kusebutkan namaku. Aku hanya seorang biasa yang tidak tahu apa-apa. Hanya satu yang kutahu. Aku harus bertindak. Orang-orang terlalu banyak berbicara ini itu tapi tidak melakukan tindakan apapun. Mungkin juga aku adalah salah satunya. Kalau pun memang aku adalah salah satu dari mereka, maka aku cukup beruntung bisa SADAR, bahwa aku adalah salah satu dari mereka, bahwa selama ini aku tidak melakukan apa-apa yang cukup berarti untuk diriku sendiri dan orang lain dan aku terlalu banyak berbicara ini itu, kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Terlalu nyaring untuk sesuatu yang kosong. Dan dengan keSADARan itu, aku akan mencoba keluar dari lingkaran hitam yang menyelimutiku selama ini. Kucoba dengan melihat dan mendengar. Melihat dengan mata yang terbuka. Mungkin selama ini aku buta. Dan mendengar dengan baik. Mungkin selama ini aku tuli. 
   Aku lebih menyukai proses daripada hasilnya. Hasil hanyalah sementara yang berakhir dengan proses yang lain. Siklus yang terus berlanjut. Selama kita bernafas, proses itu merupakan alur yang tidak berkesudahan. Tapi walaupun sulit dipercaya, suatu hari kita akan behenti bernafas dan mengakhiri proses yang panjang itu. Aku tidak mau diam saja. Statis. Aku ingin menjalani prosesku sendiri. Hidup adalah proses.                                       
   Tindakan yang kupilih adalah membaca. Aku membaca banyak sekali buku. Semakin banyak buku yang kubaca, semakin banyak yang kuketahui tentang dunia ini. Semakin banyak yang kuketahui, semakin aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa. Bahwa aku hanyalah satu tetes air di lautan. Karena aku lebih menyukai proses daripada hasilnya, maka aku tidak akan menyerah dengan banyaknya air dilautan.  
   Suatu hari aku bertemu dengan manusia lain. Berkomunikasi layaknya manusia pada umumnya. Dia menceritakan tentang bagaimana dia menjalani hari demi hari hidupnya. Maka kusampaikan apa yang ada dikepalaku, bahwa banyak manusia yang hidup seperti berjalan dalam tidur. Tidak tahu apa yang mereka inginkan. Dan tidak tahu dalam kondisi apa mereka saat ini. Hanya berjalan begitu saja. Kusampaikan tidak lebih dan tidak kurang. Setidaknya menurut perhitunganku. Entahlah apa aku sanggup menyampaikan dengan bahasa yang bisa dia mengerti atau tidak. Tapi kuharap dia bisa menerima apa yang kusampaikan dan muncul satu kesadaran dalam dirinya. Kesadaran sebagai manusia seutuhnya. Manusia yang suatu hari akan mati. 

Manusia Kedua
   Namaku adalah manusia. Sebelumnya hidupku bahagia sekali. Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga yang sangat harmonis dengan kebutuhan yang selalu terpenuhi. Rumahku yang sederhana dan indah ini kubangun dengan jerih payahku selama bertahun-tahun. Dan akhirnya rumahku berdiri kokoh dengan sisa-sisa kayu pembangunan pabrik dan bilik-bilik yang sudah bolong sebagai dindingnya. Berdiri sangat megah dan kokoh di sebuah pinggiran kota dengan pemandangan yang indah.  Pemandangan rumah-rumah megah lainnya yang bertumpuk-tumpuk dan sungai yang hitam pekat dan harum dengan sampah-sampah plastik yang rutin kubuang setiap pagi hari. Bila datang api besar, hanya dalam waktu singkat, pesta api itu akan dengan mudah menghilangkan rumah-rumah super megah itu. Dalam hidup yang serba berkecukupan ini, aku selalu makan sekali sehari dengan nasi yang dicampur dengan kerupuk dan tempe. Sungguh makanan yang sangat ekslusif. Makan terlalu banyak tidak baik. Buat apa makan 3 kali sehari kalau sekali saja cukup buatku untuk mengendarai kendaraan mewahku keliling kota. Gerobak dengan dua roda dibelakang dan diriku sebagai motor penggeraknya. Kucari plastic diseluruh penjuru kota. Kadang kendaraanku ini bisa kupakai untuk istirahat tidur bila aku terlalu malam atau terlalu capai untuk pulang ke rumahku. Dua orang anakku mempunyai peran yang sangat vital dalam bisnis keluarga yang sudah berjalan turun-temurun ini. Mereka adalah seniman terhebat dari semua seniman yang pernah ada. Bernyanyi dari mobil ke mobil dan dari perempatan satu keperempatan yang lain. hanya dengan bernyanyi, mereka sudah berbakti kepada orangtua mereka. Sungguh anak yang baik. Dan juga mereka sudah cukup pintar untuk menjadi seorang seniman handal, jadi aku tidak perlu memasukan mereka ke sekolah-sekolah yang didirikan oleh para penguasa sebagai formalitas bahwa mereka (penguasa) peduli terhadap rakyatnya. Dan lagi pula, anak-anakku juga menolak untuk dimasukan kesekolah. Itu bukti kalau mereka sudah merasa cukup pintar untuk menghadapi euphoria kehidupan. 
   Kehidupanku yang bahagia tadi berubah 180 derajat. Kebahagianku hanya tinggal dalam ingatan saja. itu terjadi ketika aku bertemu seorang manusia bodoh, tapi dengan kebodohannya dia berhasil merebut kebahagiaan hidupku. Dia hanya berkata bahwa manusia hidup seperti sedang berjalan dalam tidur. Bahwa diluar gua, ada dunia yang sangat luas untuk dilihat. Kita tidak akan melihat keindahan dunia luar bila kita terus hidup dalam gua ini. Keluarlah dari gua tempatmu hidup. Itu yang dia sampaikan. Dan dari sanalah kebahagiaan hidupku selama ini, hilang dengan begitu saja. Aku tidak menikmati lagi pemandangan rumah-rumah dan sungai-sungai didepan rumahku, yang semula indah dalam mataku menjadi begitu kumuh dan kotor. Aku tidak merasakan lagi nikmatnyanya memakan nasi dengan kerupuk dan tempe saja. Siang hari aku menjadi sangat lapar, dan ingin sekali makan untuk yang kedua kalinya dalam satu hari. Itu berlebihan buatku. Aku tidak sanggup membelinya. Dan bagaimana aku akan merubah nasib anak-anakku menjadi lebih baik? Itu semua menjadi beban yang besar sekali untukku. Pandanganku terhadap hidup berubah begitu saja setelah bertemu dengan orang bodoh itu. Sungguh aku menyesal bertemu dengannya. Kalau saja aku tidak bertemu dengan orang itu, maka aku tidak akan menyesali kehidupanku yang serba kekurangan ini sebagai akibat dari masih mudaku yang tak pernah sadar untuk mencoba merubah kehidupannku. 

 


Posted at 06:00 pm by opik-opik

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry